Abdul Kahar Muzakkir, KH

Standar

Nama :RxxOxxxx

Kelas :VIII

Tokoh nasional gerakan Muhammadiyah Kotagede. Lahir di Yogyakarta tahun 1907, putera H. Muzakkir (seorang pedagang terhormat di Kota-Gede). Ibunya adalah puteri satu-satunya dari lima bersaudara keluarga H. Mukmin. Salah seorang saudara ibunya yaitu H. Masyhudi tokoh yang terkenal di Kotagede pada saat itu, karena ikut serta membentuk lahirnya organisasi Muhammadiyah di Kotagede. Selain itu, H. Masyhudi bersama-sama dengan Kyai Amir memprakarsai pembangunan Mesjid Perak.

Sedangkan ayahnya H. Mudzakir membantu dana untuk pembangunan Mesjid Perak Kotagede. Dengan demikian, segala hal yang baik dari keluarga H. Mukmin, kakeknya itu, telah membentuk pribadi Abdul Kahar Muzakkir muda menjadi seorang yang tekun dan taat pada agama. Ia memulai pendidikannya pada SD Muhammadiyah di Selakraman, Kotagede, sembari memperdalam ilmu agama di beberapa pondok pesantren. Ia memperkaya ilmu agama dengan masuk Madrasah di Solo.

Abdul Kahar Muzakkir adalah cicit dari Kyai Hasan Bashari, seorang guru agama dan pemimpin thariqat Satariyah, yang dikenal juga sebagai salah satu seorang komandan lascar Pangeran Diponegoro (ketika berperang melawan Belanda 1825-1830). Setelah menyelesaikan pendidikan di SD Muhammadiyah Selokraman Kotagede, ia melanjutkan ke Ponpes Gading dan Krapyak untuk memperdalam ilmu agama; dan dilanjutkan ke Pondok Pesantren Jamsaren Solo sambil belajar di madrasah Mambaul Ulum.

Tahun 1924 berangkat menunaikan ibadah haji, dengan maksud terus bermukim dan belajar di sana; tetapi perang yang berkecamuk di sana memaksanya pergi ke Mesir. Pada tahun 1925 ia berkirim surat kepada keluarganya bahwa ia sudah diterima menjadi Mahasiswa Universitas Al Azhar di Kairo. Kemudian untuk efektivas Gerakan Pelajar Indonesia di Kairo dalam menyongsong Indonesia merdeka, pada tahun 1927 Abdul Kahar Muzakir pindah ke Universitas Darul Ulum yang berkedudukan di Kairo.

Tahun 1938 ia pulang ke Indonesia langsung menceburkan diri ke berbagai organisasi Da’wah dan politik. Pertama-tama yang dimasukinya Muhammadiyah dan diangkat menjadi Direktur Mu’allimin, kemudian menjadi pengurus Majelis Pemuda dan Majelis PKU Muhammadiyah; tahun 1953 menjadi Pengurus Pusat Muhammadiyah sampai akhir hayatnya. Pergerakan politik dilakukan melalui Partai Islam Indonesia bersama-sama dengan Prof. Dr. H.M Rasyidi, KH. Mansoer, Prof. KH. Faried Ma’aroef, Mr. Kasmat Bahuwinangun, dan Dr. Soekiman Wirjosandjojo.

Ia kembali ke Indonesia pada tahun 1938, dan mulai menggeluti dunia politik dan organisasi dakwah seperti dalam Partai Islam Indonesia (PII) dan organisasi Muhammadiyah. Sejalan dengan berkembangnya paham pembaharuan (reformasi) Islam dari Timur Tengah yang masuk ke kampung-kampung Kotagede. Kegiatannya terus berlanjut hingga tahun 1945. Ia terlibat aktif dalam BPUPKI untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia serta ikut mencanangkan Piagam Jakarta. Mitshuo Nakamura dalam bukunya Bulan Sabit Muncul di Balik Pohon Beringin menulis: barangkali yang paling hebat adalah munculnya Abdul Kahar Muzakkir pertama sebagai pegawai pemerintahan Jepang di daerah Yogyakarta, kemudian sebagai wakil kepala Kantor Urusan Agama Pusat di Jakarta.

Puncaknya dengan keikutsertaannya dalam kancah tertinggi politik Nnsional selama akhir masa pendudukan Jepang, dimana sebenarnya ia dapat menduduki jabatan politik tetapi ia tidak mau. Abdul Kahar Muzakkir memilih mengabdikan diri untuk mendirikan dan mengembangkan Universitas Islam. Sejak tahun 1945, ia mencurahkan seluruh tenaganya pada Sekolah Tinggi Islam (STI) yang didirikan pada tanggal 8 Juli 1945. Ia sebagai Rektor Magnificus yang pertama. Kemudian STI pindah ke Yogyakarta pada tahun 1946, dan berubah nama menjadi Unirvesitas Islam Indonesia (UII) tahun 1948. Profesor KH. Abdul Kahar Muzakkir tetap terpilih sebagai rector UII. Pengabdiannya sebagai rector dijalaninya dari tahun 1945-1960.

Ia adalah orang yang paling lama memimpin UII. Sejak STI didirikan pada 8 Juli 1945 ia dipilih sebagai Rektor Magnificus yang pertama; setelah pada tahun 1946 STI pindah ke Yogyakarta ia masih tetap menjadi Rektor Magnificus. Kemudian setelah STI diubah menjadi UII (1948), masih dipercaya menjabat Presiden (Rektor). Kedudukan sebagai Rektor UII dilepaskannya setelah UII (terhitung dari STI) berusia tak kurang dari 15 tahun. Tahun 1960 digantikan oleh Mr. Kasmat Bahuwinangun dan ia sendiri terjun ke Fakultas Hukum UII untuk menjadi dekan. Selama kurang lebih 1960-1973 ia menjadi Dekan Fakultas Hukum sampai hari wafatnya.

Kesetiaan Kahar Muzakkir pada cita-cita perjuangan UII telah dibuktikan sejarah, dan tak seorang pun dapat menyangkalnya. Sampai-sampai ia pernah menyelenggarakan Dies Natalis UII sambil bergerilya melawan Belanda di desa Tegalayung, Bantul pada Dies IV. Ia amat banyak mengarungi suka duka perjalanan UII. Di kalangan mahasiswa ia dikenal sebagai tokoh yang kebapakan, mengerti aspirasi.

Dalam bidang pemerintahan, pernah memasuki Jawatan Ekonomi Pemerintahan Militer, Pegawai Sipil Jawatan Siaran Radio Militer,, Markas Besar Tentara sebagai komentator Luar Negeri bersama Muchtar Lubis, dan di Jawatan Kementrian Agama; semua itu dilaluinya sebagai pekerjaan dalam Pemerintahan Jepang di Indonesia. Dalam negara Indonesia merdeka ia pernah menjadi Wakil Kepala Kementrian Agama dengan pangkat sebagai pegawai tinggi tingkat II.

Partisipasinya yang besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia adalah keterlibatannya secara aktif dalam BPUPKI tahun 1945. dan ikut memancangkan tonggak sejarah dalam proses perumusan dasar negara dalam Piagam Jakarta. Ia meninggal pada tanggal 2 Desember 1973 dengan memberikan banyak warna kenangan bagi UII, dan masyarakat Kotagede. Ia telah menjadi salah seorang pemimpin nasional gerakan Muhammadiyah yang dihasilkan dari Kotegede.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Haji Abdul Malik Karim Amrullah

Buya HAMKA

Haji Abdul Malik Karim Amrullah

Lahir 17 Februari 1908
Maninjau, Hindia Belanda
Meninggal 24 Juli 1981 (73 tahun)
Jakarta, Indonesia
Kebangsaan  Indonesia
Suku bangsa Suku Minang
Angkatan Pujangga Baru dan Balai Pustaka
Karya terkenal Di Bawah Lindungan Ka’bah

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan julukan HAMKA, yakni singkatan namanya, (lahir di desa kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 – meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun) adalah sastrawan Indonesia, sekaligus ulama, dan aktivis politik.

Belakangan ia diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan buat orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayahku, atau seseorang yang dihormati.

Ayahnya adalah Syekh Abdul Karim bin Amrullah, yang merupakan pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906.

Biografi

Hamka mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau sehingga kelas dua. Ketika usianya mencapai 10 tahun, ayahnya mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ Hamka mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. Hamka juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto, dan Ki Bagus Hadikusumo.

Hamka mula-mula bekerja sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan dan guru agama di Padang Panjang pada tahun 1929. Hamka kemudian dilantik sebagai dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padang Panjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Setelah itu, beliau diangkat menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta. Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia, tetapi meletakkan jabatan itu ketika Sukarno menyuruhnya memilih antara menjadi pegawai negeri atau bergiat dalam politik Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).

Hamka adalah seorang otodidak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti, dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx, dan Pierre Loti. Hamka juga rajin membaca dan bertukar-tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Soerjopranoto, Haji Fachrudin, AR Sutan Mansur, dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang andal.

Hamka juga aktif dalam gerakan Islam melalui organisasi Muhammadiyah. Ia mengikuti pendirian Muhammadiyah mulai tahun 1925 untuk melawan khurafat, bid’ah, tarekat, dan kebatinan sesat di Padang Panjang. Mulai tahun 1928, beliau mengetuai cabang Muhammadiyah di Padang Panjang. Pada tahun 1929, Hamka mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah dan dua tahun kemudian beliau menjadi konsul Muhammadiyah di Makassar. Kemudian beliau terpilih menjadi ketua Majlis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah, menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Ia menyusun kembali pembangunan dalam Kongres Muhammadiyah ke-31 di Yogyakarta pada tahun 1950.

Pada tahun 1953, Hamka dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiah. Pada 26 Juli 1977, Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. Mukti Ali melantik Hamka sebagai ketua umum Majelis Ulama Indonesia tetapi beliau kemudiannya mengundurkan diri pada tahun 1981 karena nasihatnya tidak dipedulikan oleh pemerintah Indonesia.

Kegiatan politik Hamka bermula pada tahun 1925 ketika beliau menjadi anggota partai politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, beliau membantu menentang usaha kembalinya penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerilya di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, Hamka diangkat menjadi ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia.Disamping Front PertahananNasional yang sudah ada didirikan pula Badan Pengawal Negeri & kota (BPNK). Pimpinan tersebut diberi nama Sekretariat yang terdiri dari lima orang yaitu HAMKA, Chatib Sulaeman, Udin, Rasuna Said dan Karim Halim. Ia menjadi anggota Konstituante Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pemilihan Umum tahun 1955. Masyumi kemudiannya diharamkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960. Dari tahun 1964 hingga tahun 1966, Hamka dipenjarakan oleh Presiden Sukarno karena dituduh pro-Malaysia. Semasa dipenjarakanlah maka beliau mulai menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, Hamka diangkat sebagai anggota Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majelis Perjalanan Haji Indonesia, dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia.

Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, Hamka merupakan seorang wartawan, penulis, editor, dan penerbit. Sejak tahun 1920-an, Hamka menjadi wartawan beberapa buah surat kabar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam, dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makassar. Hamka juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, dan Gema Islam.

Hamka juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar dan antara novel-novelnya yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura termasuklah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka’bah, dan Merantau ke Deli.

Hamka pernah menerima beberapa anugerah pada peringkat nasional dan internasional seperti anugerah kehormatan Doctor Honoris Causa, Universitas al-Azhar, 1958; Doktor Honoris Causa, Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974; dan gelar Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia.

Hamka meninggal dunia pada 24 Juli 1981, namun jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam memartabatkan agama Islam. Ia bukan saja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sasterawan di negara kelahirannya, malah jasanya di seluruh alam Nusantara, termasuk Malaysia dan Singapura, turut dihargai.

Daftar Karya Buya Hamka

  1. Khatibul Ummah, Jilid 1-3. Ditulis dalam huruf Arab.

  2. Si Sabariah. (1928)

  3. Pembela Islam (Tarikh Saidina Abu Bakar Shiddiq),1929.

  4. Adat Minangkabau dan agama Islam (1929).

  5. Ringkasan tarikh Ummat Islam (1929).

  6. Kepentingan melakukan tabligh (1929).

  7. Hikmat Isra’ dan Mikraj.

  8. Arkanul Islam (1932) di Makassar.

  9. Laila Majnun (1932) Balai Pustaka.

  10. Majallah ‘Tentera’ (4 nomor) 1932, di Makassar.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s