Puisi

Standar

PUISI

SAAT KU INGAT DIRIMU

KU INGAT DIRIMU

Kucoba menggambar wajahmu dikepala
Indah terangkai raut penuh pesona
Terdamparku di pulau khayalan senja
Diantara sepi kulalui semua rasa curiga

Dititian kasih ku berjalan
Berhati-hati langkahmu perlahan
Berharap segera menemukan
Semua jawaban dari semua pertanyaan

Saat timbul rasa ragu
Saat indah jadi sendu
Segala tertelan rasa cemburu
Semua tawa berubah haru

Disaat itu pula kusadari
Kau masih disini setia menemani
Menungguku membawa cinta sejati
Membawa semua kasih peduli

Rindu ini semakin kental
Cinta ini semakin kekal

Tersenyum sendiri bila ku ingat dirimu
Harus berapa lama lagi aku menunggu
Tuk bjsa bersamamu selalu
Menjalani berdua bersama berpadu

 

MENTARI PAGI
Pagi ini kulihat kembali
mentari tersenyum manis
pancarkan cahya di samping masjid
hangatkan jiwaku yang dingin
dalam kebekuan yang panjang

Kembali senyummu mengusik
ketenangan terminal yang berisik
hingga anganku kembali melayang
di antara deru anak-anak malang
yang tertidur di tepi trotoar

Akankah esok kan kembali ceria
ketika tak kulihat lagi
mentari tersenyum
Pada Setiap Pagi

 

 

 

 

 

HATTA

Engkau adalah kenangan
yang tumbuh dalam kepala dan jiwaku
Suatu malam kau datang dalam mimpiku
katamu:
jangan lelah menebar kebajikan
jadikan kesederhaan
sebagai teman paling setia
Aku anak kecil
berjanji menepati
jadi akan kusurati lagi
presiden kita
hari ini

AYAH BUNDAKU

Bunda

engkau adalah

rembulan yang menari

dalam dadaku

Ayah

engkau adalah

matahari yang menghangatkan

hatiku

Ayah Bunda

kucintai kau berdua

seperti aku mencintai surga

Semoga Allah mencium ayah bunda

dalam tamanNya terindah nanti


MUHAMMAD RINDUKU

Kalau kau mencintai Muhammad
ikutilah dia
sepenuh hati
apa yang dikatakan
apa yang dilakukan
ikuti semua
jangan kau tawar lagi
sebab ialah lelaki utama itu
memang jalan yang ditempuhnya
sungguh susah
hingga dengannya terbelah bulan
tapi kalau kau mencintai Rasul
ikutilah dia
sepenuh rindumu
dan akan sampailah kau padaNya

SEBATANG RUMPUT
Saat Reuni Tiba

sebatang rumput
tumbuh di halaman
tegak berdiri
meski selalu terinjak
dan dipijak

ada harapan
tersimpan dalam tubuh yang koyak
meski airmata menyiram
dengan racun-racun cinta
yang mengalir
dari hati yang sendu

sebatang rumput itu
tegak berdiri
menantang matahari
yang membakar…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s